Dua pekan lalu, saat AC Milan menjamu FC Barcelona dalam
matchday
3 Liga Champions 2013/14, kondisi Milan sudah cukup mengenaskan untuk
menghelat sebuah laga besar pada kasta tertinggi sepakbola Eropa.
Beragam cedera pemain dari bawah mistar gawang hingga
target-man
serta rentetan hasil mengecewakan di berbagai ajang yang diikuti
menghiasi persiapan jagoan Italia tersebut. Hasilnya, meski unggul
terlebih dahulu, namun Milan tidak mampu bersikap konsisten terhadap
idealisme permainan
pressing yang mereka coba terapkan terhadap
Barca.
Pertandingan pun berakhir seri, padahal dari sisi psikologis
pertandingan, jadwal melawan Milan tersebut sebenarnya juga tidak
menguntungkan Barca dikarenakan rekor kemenangannya baru saja dihentikan
Osasuna di
La Liga, serta konsentrasi yang terganggu dengan hadangan Real Madrid di akhir pekan.
Dua pekan sudah berlalu, keadaan Milan tidak jauh berubah, malah
menunjukkan grafik yang cenderung menurun. Dengan kekalahannya melawan
Fiorentina pada
Serie A hari Sabtu, 2 November 2013, kemarin, resmilah sudah Milan mencatat rekor
start terburuk mereka di
Serie A
dalam 31 tahun terakhir. Memang, agak susah dimasukkan ke akal bila
pengganggu terdekat Madrid soal rekor pencapaian trofi Liga Champions
tersebut hanya menghasilkan jumlah poin (12 poin) yang tak jauh berbeda
dengan jumlah pertandingan (10
giornata) mereka di liga. Ujung-ujungnya, posisi mereka di klasemen sementara (posisi 11) pun sangat jauh dari status pemburu
scudetto.
Mari kita simak apa yang dikatakan oleh pelatih Milan, Massimiliano Allegri setelah laga melawan
La Viola
kemarin. Ia sendiri sampai menempatkan kondisi timnya sekarang sebagai
yang terburuk dalam 3.5 tahun karirnya menangani Milan. Kalau diingat
kembali, di masa kepelatihannya yang 3.5 tahun itu pulalah tersaji duel
paling sering antara Milan dengan Barca dalam sejarah Liga Champions.
Apakah ucapan Allegri tersebut juga sebagai pertanda bahwa Milan juga
sudah siap untuk kemungkinan terburuk saat melakoni
matchday 4 yang akan digelar Rabu, 6 November 2013, malam hari waktu kota Barcelona ?
Menyambangi Stadion Camp Nou, alarm Milan harus tetap dinyalakan
untuk posisi kiper. Kiper utama Christian Abbiati masih belum pulih dari
cedera. Kiper pengganti berusia muda Gabriel Vasconcellos Ferreira
belum mampu menunjukkan kemampuan apiknya di bawah mistar gawang.
Malangnya, pilihan lain pada diri Marco Amelia juga tidak memberi
harapan, padahal kiper satu ini sebenarnya cukup sarat pengalaman.
Maka, dengan tiadanya cedera tambahan selama dua pekan ini, hampir
dapat dipastikan bahwa komposisi Milan nanti akan mengulangi apa yang
diracik oleh Allegri sebelumnya. Bedanya, dengan status kali ini sebagai
tamu, Milan akan cenderung lebih bertahan. Di San Siro, Allegri
mengandalkan 4-3-3 bermodalkan kombinasi kecepatan Kaka menyisir sisi
kanan pertahanan Barca dan kelincahan Robinho mencari celah diantara
duet bek tengah Barca. Untuk mengimbangi Barca di Camp Nou, Allegri
tampaknya akan menggeser dua sayap menjadi gelandang untuk membentuk
lima gelandang petarung di lini tengah. Hal ini tentu saja berdasarkan
pengalaman sulitnya mengharapkan sebuah pertarungan terbuka melawan
Barca di Camp Nou akan berbuah banyak gol bagi tim tamu. Maka menutup
serapat mungkin wilayah pertahanan sejak lini tengah menjadi opsi paling
layak dipertimbangkan bagi Milan.
Melengkapi rencana pembentengan diri tersebut, Milan tampaknya akan
lebih mempercayakan Mario Balotelli dibanding Robinho, sang pencetak gol
tunggal Milan ke gawang Barca di laga sebelumnya. Walaupun bengal dan
sering menyulut kontroversi saat bermain, jiwa petarung
Super Mario
lebih kental terasa dibanding Robinho. Kalaupun Allegri ingin
memanfaatkan kualitas umpan Robinho serta kelincahannya mengolah bola,
ia bisa menggeser Robinho ke sayap kanan menggantikan Valter Birsa.
Namun resiko yang bisa terpapar dari skenario ini adalah fisik Robinho
yang tidak sekokoh Birsa akan kurang efektif membantu Ignazio Abate
mengawasi pergerakan Neymar Junior.
Barca tidak memiliki ganjalan berarti dalam persiapan skuadnya. Tidak
ada lagi badai cedera dalam satu posisi tertentu untuk pertandingan
menghadapi Milan tersebut. Yang mungkin akan sedikit memusingkan pelatih
Gerardo
“Tata” Martino adalah bagaimana mengoptimalkan
permainan bintang utamanya, Lionel Messi. Memang ukuran paling sederhana
yang bisa dipakai untuk menilai Messi adalah torehan gol dan
assist
yang berhenti setelah membobol gawang Amelia di San Siro. Namun memang
faktanya dalam beberapa laga setelahnya, pergerakan Messi di lapangan
tidak seberbahaya biasanya. Ia terlihat lebih sering kehilangan bola dan
menjadi mudah dibaca gerakannya.
Di saat turunnya pencapaian
La Pulga, Barca punya idola baru pada diri Alexis Sanchez. Tujuh gol dari sembilan laga
La Liga
yang sudah dimainkannya sangat kuat menjadi alasan betapa berbahanya
serangan Barca saat bola sudah berada di kakinya. Selain mulai
menonjolkan akurasi
shooting yang sejatinya telah melekat sejak dari Udinese, bintang asal Cile ini juga menjadi topik bahasan soal
positioning dan
timing
dalam proses terciptanya beberapa gol yang ia ciptakan. Hal ini memang
wajar dikemukakan mengingat dalam skenario Barca sejak tahun terakhir
Josep ‘Pep’ Guardiola melatih, Messi menjadi titik sentral dari trisula
maut.
Nah, dengan kedatangan Tata yang lebih gemar berotasi,
instruksi tukar tempat antara Messi dan Sanchez berhasil dipahami
Sanchez dengan baik. Hasilnya, beberapa gol yang ia bukukan berasal dari
sprint pendek dengan lintasan melintang dari area alaminya di sayap kanan menuju daerah berbahaya di depan gawang lawan.
Dengan tiga orang penyerang berkualitas nomor satu, Barca tak perlu
khawatir untuk mampu secara konsisten memborbardir gawang Milan.
Kombinasi bola bawah bisa menjadi prioritas serangan Barca karena postur
tinggi duet Cristian Zapata dan Philippe Mexes tidak sama efektifnya
untuk alur bola yang demikian. Kombinasi manuver dan umpan Neymar, daya
“tarik”
Messi terhadap bek tengah Milan serta masuknya Sanchez ke kotak penalti
lawan sangat layak ditunggu sebagai skenario serangan Barca.
Satu-satunya perubahan yang mungkin dilakukan oleh Tata dibandingkan
laga sebelumnya bisa terjadi di lini belakang. Sambil menunggu kepastian
kebugaran Adriano Correia, nama Martin Montoya menjadi pilihan terbaik
untuk mengisi pos bek kiri.
Laga antara Barca dan Milan kali ini sejatinya bukan sajian terbaik
dalam grafik puncak mereka. Dani Alves pun sampai berujar bahwa hanya
sejarah kuat yang dimiliki Milan-lah yang menjadi faktor paling sulit
diantisipasi daya letupnya dalam laga nanti. Sementara, posisi mereka di
klasemen sementara
Serie A telah berbanding terbalik dalam rentang yang sangat senjang dengan status Barca di
La Liga.
Seolah-olah membenarkan diri, bila soal ambisi Eropa, Milan selalu
mengumandangkan di level tersebutlah terdapat DNA mereka. Maka, dengan
hanya mampu memperoleh hasil seri di San Siro, bisa apa Milan di Camp
Nou?
Matchday 4 Liga Champions 7 November 2013
FC Barcelona vs AC Milan
Venue: CampNou
Stasiun TV: Live SCTV
Perkiraan pemain:
FC Barcelona (4-3-3):
Valdes; Alves, Pique, Puyol (
C), Montoya; Busquets, Xavi, Iniesta; Messi, Sanchez, Neymar
AC Milan (4-1-4-1):
Amelia; Abate, Zapata, Mexes, Constant; de Jong; Birsa, Montolivo (
C), Muntari, Kaka; Balotelli
Visca Barca!